Forum Elins
*


Login with username, password and session length

Forum Elektronika dan Instrumentasi ( ELINS ) UGM

Pembayaran Kaos Forum ELINS    Selamat Datang Mahasiswa Baru ELINS 2010

komentar pendapat kritik disini    Udah register tapi belum bisa login? klik disini
Pages: [1]   Go Down
Print
Author Topic: Untuk Akhir Pekan Ini  (Read 119 times)
pinqiuCz
Sersan Satu
*
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 201


Pin Bikin Rame Euy !!!!


« on: June 26, 2010, 11:09:51 AM »

Untuk akhir pekan ini, akan ditampilkan sebuah tulisan karya Andi HM yang bertujuan memberikan inspirasi kepada kita untuk jujur dan berkerja keras jika ingin sukses berwirausaha dan pada akhirnya wirausaha berusaha membuat kita menjadi manusia yang besar manfaatnya terhadap orang lain.



Alhamdulillah, selain mendapatkan pengalaman spritual luar biasa dalam perjalanan umroh (22 – 31 Juli 2007), saya juga mendapatkan berbagai pengalaman ilmu kewirausahaan, baik dari sesama kelompok jemaah, maupun dari pelaku bisnis yang berada dilingkungan perjalanan umroh tersebut. Untuk kali ini, saya ingin membagi pengalaman yang saya peroleh dari seorang jemaah peserta umroh.
Alkisah, ibu Nekat (sebut saja demikian) adalah seorang ibu paruh baya dengan keterbatasan bahasa (hanya bisa bahasa daerah asalnya, tidak dapat berbahasa Indonesia, apalagi bahasa Arab atau bahasa Inggris dan sekaligus buta huruf), selain bersama sekitar 16 orang peserta lain sesama daerah asalnya, dalam kelompok lebih kecil, ibu Nekat disertai oleh ibu kandungnya (maaf sudah agak pikun) dan ibu tirinya (maaf pendengarannya kurang).
Pada awalnya tidak ada yang aneh dengan kondisi ibu Nekat, karena dia selalu bersama dengan kelompok besarnya. Pada suatu hari ibu Nekat dan kedua orang kelompok kecilnya berada di depan lift dan kebetulan saya berada disana bersama mereka untuk menunggu lift. Di sinilah baru saya mengetahui kondisi mereka, ternyata tidak ada satupun dari mereka yang dapat mempergunakan lift. Jadi selama ini, mereka hanya mengandalkan orang lain untuk itu, dimana kalau bukan dengan kelompok besarnya, mereka hanya mengikuti orang yang menggunakan lift tersebut, syukur-syukur kalau orang tersebut satu jurusan (naik atau turun).
Berawal dari kondisi itu, saya tertarik untuk berkomunikasi dengan mereka dan coba membantu kesulitan-kesulitan yang mereka alami (kebetulan saya mengerti sedikit dengan bahasa daerah mereka).
Suatu hari kami serombongan berziarah ketempat-tempat perziarahan, dimana kebetulan saya satu bus dengan mereka. Selama dalam perjalanan saya berbicang-bincang dengan ibu Nekat. Subhanallah, ternyata banyak sekali dari kehidupan ibu Nekat yang dapat kita jadikan pelajaran maupun yang perlu kita teladani.
Ibu Nekat, semasa mudanya atau saat pertama memulai usahanya tidak mempunyai modal uang sepersenpun, awalnya dia hanya membantu para nelayan untuk menurunkan hasil tangkapan ikan dari perahu atau kapal penangkap ikan dan dibawa ke tempat pelelangan ikan (anda dapat bayangkan berapa yang diperoleh ibu Nekat untuk usahanya pada saat itu). Suatu hari ibu Nekat mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelelangan mewakili salah satu pedagang ikan yang tidak dapat hadir. Entah karena nasib baik atau memang karena pengalaman ibu Nekat yang selalu mengikuti pelelangan (walaupun hanya menonton saja), peran ibu Nekat sebagai penawar dalam lelang dianggap sangat baik oleh pedagang ikan yang diwakilinya.
Mulai saat itu ibu Nekat beralih profesi dari kuli panggul menjadi penawar di pelelangan (walaupun baru sebagai wakil atau bisa kita sebut “joki”). Namanya juga ibu Nekat, setelah berbulan-bulan menjadi joki, dia nekat untuk menjadi pedangang ikan. Awalnya dia berhasil meminjam uang untuk jangka satu hari, dimana uang tersebut dipergunakan untuk melakukan penawaran di pelelangan ikan dan hasilnya dia jual kembali ke pedagang ikan yang lebih besar. Tahap ini kita sebut saja ibu Nekat mempunyai profesi sebagai “pedagang kecil”. Pada tahap ini, ibu Nekat mempunyai pikiran yang sangat sederhana, yaitu bagaimana mengembalikan uang yang dia pinjam tepat waktu

Selanjutnya, dengan uang yang diakumpulkan sedikit demi sedikit dari profesi sebagai pedagang kecil dan mendapat kepercayaan dari para pemodal untuk menambah jumlah pinjaman dan waktu pinjamannya (dari sehari menjadi satu minggu), ibu Nekat memulai tahap baru dalam karirnya sebagai entrepreneur, yaitu menjadi pegadang ikan skala menengah (kita sebut saja pedagang menengah). Pada tahap ini, ikan yang diperoleh dari hasil pelelangan, dijual kembali ke pasar-pasar tradisional di luar daerahnya. Ibu Nekat menyewa mobil bak terbuka untuk keperluan operasionalnya, dan sekaligus bertindak sebagai kenek, kuli angkut dan penjual (ingat pada tahap ini, ibu Nekat hanyalah seorang wanita biasa yang hanya mengerti bahasa daerahnya saja dan butu huruf).
Singkat cerita, dari kerja kerasnya, ibu Nekat setahap demi setahap dapat meningkatkan penghasilan maupun karirnya, saat ini ibu Nekat sudah mempunyai 4 buah kapal penangkap ikan dan statusnya pun sudah meningkat menjadi pedagang ikan besar atau juragan ikan. Lagi-lagi dalam taraf ini, ibu Nekat hanyalah wanita biasa yang hanya mengerti bahasa daerahnya saja dan buta huruf.
Dalam bahasa daerahnya dia menceritakan bahwa saat ini, selain empat buah kapal yang dimilikinya dia mempunyai beberapa kendaraan operasional (mobil bak terbuka), 2 mobil nissan terbaru sebagai mobil pribadi, beberapa buah rumah, emas dan perhiasan yang saya lupa berapa beratnya dan kurang lebih 17 hektar sawah. Diakhir perbincangan, dia menanyakan kepada saya harga mobil crp (ternyata maksudnya Honda CRV), katanya dia pengen beli sepulang umroh.
Dari kisah tersebut, ada beberapa faktor yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran maupun yang perlu kita teladani dari kehidupan ibu Nekat :
1. Jujur
2. Bekerja Keras
Betapa malunya saya pada diri sendiri, dengan gelar master yang saya punyai, dengan kemampuan multi bahasa, finasial dan seabrek kelebihan-kelebihan lain yang saya miliki dibandingkan dengan ibu Nekat, saya hanyalah seorang pemalas (lawan dari bekerja keras yang dilakukan ibu Nekat), kadang-kadang tidak jujur dan terlalu banyak keinginan yang mau dikerjakan yang ujung-ujungnya hanya NATO
 Kiranya kisah ibu Nekat dapat menjadi renungan bagi kita semua dan terutama diri saya sendiri
.

Subhanallah

Hanya itulah kata yang dapat menggambarkan kejadian itu. Lo kok ? ? ?.
Begini kejadian yang sangat sederhana, namun membuat saya harus kehilangan kata-kata lain untuk menggambarkannya.
Posting “Oleh-oleh Umroh“ merupakan pengalaman umroh bulan Juli tahun 2007, dimana pada waktu itu sempat terlontar untuk umroh bersama-sama lagi (dengan kelompok-kelompok yang lain) setahun akan datang.

Suatu hari di awal bulan Mei tahun 2008 (belum genap setahun) ada pembicaraan dikeluarga kami yang intinya, kedua orang tua saya ingin merayakan hari perkawinan mereka di Tanah Suci sambil beribadah Umroh.
Saya tidak tau dengan pasti apa maknanya, tetapi semua kejadian yang saya alami terasa begitu “kebetulan”. Pertama, waktu untuk memutuskan untuk berumroh mepet, tetapi ternyata masih bisa ikut pada jadwal umroh yang sesuai dengan tanggal perkawinan karena ada peserta lain yang mengundurkan diri. Kedua, kami (seluruh keluarga besar) mengantar orang tua kami ke bandara, bisanya hanya didrop oleh supir dan semuanya sudah di urus oleh biro perjalannan umrohnya. Ketiga, saya melihat group peserta umroh yang turun dari salah satu bus ternyata adalah group yang saya kenal cukup baik, dimana ibu Nekat termasuk didalamnya.
Entah karena apa, saya begitu antusias untuk menemui ibu Nekat dan begitu pula sebaliknya pada saat ia melihat saya. Saya sangat ingat kata-kata yang pertama ia lontarkan pada saat itu “nang, mimih wes tuku crp” (nak ibu sudah membeli crp)
 wah, ternyata, walaupun Ibu Nekat sudah membeli sebuah mobil honda CRV, dia masih tetap tidak bisa mengucapkan nama jenis mobil itu dengan baik. Kemudian kami (saya, istri saya dan Ibu Nekat) terlibat pembicaraan yang tidak terlalu lancar, dimana saya dan istri saya hanya paham sedikit-sedikit bahasa daerah Ibu Nekat, sedangkan Ibu Nekat hanya bisa berbahasa Indonesia campuran (ingat sampai pada tahap ini, Ibu Nekat hanyalah seorang wanita biasa yang hanya mengerti bahasa daerahnya saja dan buta huruf).
Secara garis besar, pembicaraan kami :

    * Dari segi usahanya (pedagang ikan besar), ibu Nekat sudah berhasil menambah armada kapal ikannya menjadi 6 buah dan juga menambah beberapa kedaraan operasionalnya (mobil bak terbuka).
    * CRV, merupakan mobil pribadi ketiganya. Ironisnya dia lebih suka menggunakan kendaraan operasionalnya untuk kegiatan sehari-harin. “Mimih punyeng nang” (ibu pusing nak) katanya mengenai mobil pribadi tersebut, AC nya dingin sekali, tambahnya.
    * Di bidang spiritual, selain bertekat untuk setiap tahun menjalankan ibadah umroh, ibu Nekat hampir tidak pernah memegang uang “cash” karena selalu dihamburkan untuk mereka “yang lebih membutuhkan” katanya. Kegiatan ini telah dilakukannya sejak dia memperoleh uang hasil keringatnya untuk pertama kali. Sedikit menggoda, saya bertanya, “Mimih bayar biaya umroh dari mana?”, “beli weruh nang” (ngak tau nak), setiap kali ketua kelompoknya mengajak untuk berumbroh, pasti selalu ada uang cash yang baru didapatkannya, tambahnya lagi.

‘Gosip time’ beberapa kali terganggu oleh permintaan ibu Nekat kepada saya untuk men-dial nomor telpon beberapa saudaranya dikampung melalui telpon genggam yang dimilikinya (ironisnya, dia hanya tau mempergunakan satu tombol untuk menerima telpon saja, tombol lain and feature canggih lainya di hp tsb, tau ah elap). Isi pembicaraan ibu Nekat dengan saudara2nya ternyata lebih banyak didominasi oleh keteledoran dan kecerobohan ibu Nekat, seperti misalnya gas yang habis karena kompor tidak dimatikan atau bagaimana dia tersadar kalau 3 buah kunci mobil pribadinya terbawa di tas plastik yang disimpan di kopor jinjingnya (karena ngak pernah dipake kale).
Tanpa terasa gosip time berakhir karena peserta umroh harus segera menuju ruang tunggu keberangkatan. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari kejadian itu, namun pada kesempatan ini saya coba hanya mengintisarikan dua topik :

    * ‘Kebetulan’ adalah suatu peluang yang tak terduga. Seringkali peluang datang menghampiri kita, tetapi tidak kita manfaatkan, malah kita membuangnya begitu saja. Kebetulan sering kali terjadi dan sesering itu pula kita melupakannya. Cobalah untuk menpergunakan kebetulan, karena kebetulan tidak mungkin terjadi tanpa adanya usaha.
    * ‘Keyakinan’ sangat mudah untuk diucapkan, namun pernahkah kita mempertanyakan seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk sebuah keyakinan. Ibu Nekat merasa yakin betul bahwa menghamburkan uang untuk mereka yang lebih membutuhkannya akan menghasilkan sesuatu yang lebih dari usaha yang dilakukannya. Dari ucapannya “Nang, kalau kita menanam padi dengan niat yang baik, nanti hasilnya akan berupa padi yang melimpah, bukan pelem gedong (kebetulan dia juga punya kebon mangga gedong khas daerahnya). “Yakini, Lakukan (usaha) dan Panen Hasilnya”.

Sekali lagi, sampai pada tahap ini, ibu Nekat hanyalah wanita biasa yang hanya mengerti bahasa daerahnya dan buta huruf. Saya harus banyak introspeksi, mudah-mudahan usaha yang dilakukan ibu Nekat demi sebuah keyakianan dapat saya tiru, dimana selama ini saya terlalu banyak berganti-ganti keyakinan karena saya sebenarnya tidak yakin.
“Yakin dan Usaha” akan menghasilkan “Kebetulan”.


Sebagai Tambahan :

Spoiler for Hiden:
Tidak ada alasan untuk tidak bersedekah,,
jika punya banyak uang,,, ya sedekahlah uang yang banyak,,,
punya uang sedikit ya sedekahlah uang yang sedikit,,
jika ga punya duit tapi punya keahlian, ya sedekahlah dengan keahlian (tindakan),,
jika ga punya apa2 .... ya senyumlah kepada orang lain,,,
...katanya kan "senyummu kepada saudaramu adalah sedekah",, hehehe
« Last Edit: June 26, 2010, 11:13:44 AM by pinqiuCz » Logged

Pin Bikin Rame Euy !!!!
xikyu46
Sersan Dua
*
Offline Offline

Posts: 157



WWW
« Reply #1 on: June 26, 2010, 12:30:36 PM »

nice post ndan.. salut buat nenek nekad. bener2 perlu dijadikan renungan.
Logged
aKu aDAlaH
rakyat jelata

Offline Offline

Gender: Male
Posts: 13



« Reply #2 on: June 26, 2010, 05:51:32 PM »

postingan yg sangat menarik.... syiip ndan
Logged
Pages: [1]   Go Up
Print
 
Jump to:  

TinyPortal v1.0 beta 4 © Bloc